Setiap media sosial sebagian besar dimanfaatkan untuk kepentingan negatif (mungkin harus dibuatkan statistiknya). Hujat sana sini, caci sana sini. Yang hater kegirangan ketika melihat tokoh yang dibenci menjadi pesakitan. Begitupun sebaliknya ketika tokoh yang dibela dicaci, sang pendukung malah menyerang balik. Tak ketinggalan sumpah serapah Dan nama-nama hewan selalu diikutkan didalam komentar yang ditinggalkan. Agaknya, politik adu domba menjadi kelemahan terbesar dari bangsa ini. Sudah ratusan tahun berlalu (mungkin abad, sejak Zaman kerajaan) sampai sekarang tetap masih menjangkiti Kita. Orang berpendidikan tinggi yang diharapkan dapat menjadi penengah pun ikut-ikutan terlihat konyol, menganalisa masalah berdasarkan sedikit fakta Dan dicampur berdasarkan opini. Bukan menjadi solusi malah menyebabkan polusi Kata Kata kotor dari pengikut mereka.

Bulan suci Ramadan? Tidak peduli. Cacian, makian, hinaan Dan tuduhan terus dilayangkan. Merasa selalu benar Dan paling berjasa. Perbedaan menjadi sebuah masalah di sini, bukan menjadi keindahan.

Mohon maaf lahir Dan batin kawan.