Walaupun terkesan terlambat dan negatif, tapi tidak ada salahnya saya mengangkatnya sebagai sebuah tulisan di blog ini. Entah kenapa justru ditahun tahun seperti sekarang yang membutuhkan kreatifitas tinggi dan daya imajinasi untuk dapat bersaing, malah bangsa kita seolah-olah stuck dengan sebuah kata kreatifitas.

Kalo kita runut beberapa tahun belakangan, trend “kehilangan kreatifitas” sudah mulai muncul. Ketika sebuah stasiun televisi sukses menyiarkan acara musik, stasiun televisi lainnya berbondong bondong menyiarkan hal serupa. Hingga sampai akhir tahun 2013 berlanjut awal 2014, kebiasaan ini masih terus berlangsung. Setelah sukses dengan goyang “caisar” yang dibawakan salah satu stasiun televisi swasta, goyangan serupa mulai diadopsi acara lain yang tidak memiliki relasi dan essensi di televisi swasta lainnya. Sungguh disayangkan, acara yang menjadi favorit kaum muda justru tidak bisa memberikan warna tersendiri dan tidak memiliki kreatifitas. Dimana kesalahannya? Daya imajinasi yang mulai berkurang? Kekurangan SDM yang berkualitas? Proses pendidikan yang salah?

Masih banyak cara lain untuk mengangkat rating sebuah siaran dengan menampilkan acara yang menghibur dan mendidik. Mengangkat tema ilmu pengetahuan di prime time televisi, acara talk show dengan para ahli di bidangnya dan menampilkan sosok inspiratif bangsa ini hingga mengangkat pahlawan-pahlawan bangsa rasanya jauh lebih mendidik dan membangkitkan nasionalisme pemuda dibandingkan acara yang hanya menjelekkan lawan main, mengulik kehidupan selebriti dan mendiskritkan satu kelompok.

Mudah”an stuck kreatifitas ini tidak dicontoh oleh anak muda dan daya imajinasi tidak akan hilang dari generasi ini