Bulan Februari-Maret menjadi bulan-bulan sibuk para peneliti dosen maupun mahasiswa untuk menyusun proposal penelitian. Setiap tahun siklus serupa terus terjadi, berbagai ide kreatif dan inovatif selalu keluar dari pemikiran orang-orang jenius di Indonesia, tapi entah kenapa ide tersebut hanya tertuang diatas kertas dan ketika diimplementasikan di lapangan seolah-olah ada sebuah tembok besar yang tidak bisa dilalui.

Apa yang terjadi sebenarnya. Kesalahan dalam regulasi dan birokrasi? Atau salah perkiraan atau konsep yang tidak matang? Rasanya alasan terakhir yang saya jabarkan tidak akan menjadi alasan favorit yang digunakan para peneliti. Penelitian harus berdasarkan data-data yang sudah di riset dan dianalisis secara matang. Bukan cuma asal-asalan pengumpulan data. Masih banyak sebenarnya permasalahan serupa, bukan hanya dalam konteks penelitian, kompetisi tahunan PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa) juga menyisakan pertanyaan. Setiap tahun mahasiswa-mahasiswa cerdas menyalurkan inovasi dan solusi cerdasnya buat kemajuan bangsa ini. Tapi tetap terbentur pada sisi akhir, IMPLEMENTASI

Lantas, apa yang salah sebenarnya? Apa perlu ditambah sebuah aspek penilaian buat menjembatani masalah ini? Mungkin anda memikirkan solusi yang sama dengan yang saya pikirkan