Sejatinya penggunaan teknologi tepat guna akan lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan penerapan teknologi tinggi akan tetapi tidak bisa disinergikan dengan resource lainnya. Teknologi tepat guna disini bisa diartikan dengan penggunaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing user. Salah satu contoh menarik mengenai penggunaan teknologi tinggi akan tetapi tidak bisa disinergikan adalah penggunaan teknologi mobile WiMax. Dahulu WiMax digadang-gadang sebagai teknologi masa depan yang dapat menggantikan teknologi 3G . WiMax memiliki kelebihan dalam hal transfer data yang sangat cepat. Tidak adanya dukungan infrastruktur yang memadai memaksa WiMax bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang. Seluruh keunggulan dan nilai tambah WiMax seolah tidak ada gunanya. Beda kondisi jika dibandingkan dengan teknologi 3G. Dengan pengoptimalan teknologi yang sudah ada, 3G kembali menemukan gairahnya. Dengan sudah banyaknya support dari berbagai jenis handset terhadap teknologi 3G ditambah lagi sudah siapnya infrastruktur penyokong jaringan 3G membuat teknologi ini menjadi primadona di jalur transfer data GSM. Sebuah pelajaran berharga yang hendaknya dapat kita ambil dan jadikan acuan dalam penerapan sebuah teknologi. Dimana aspek tepat guna harus dikedepankan jika dibandingkan dengan penggunaan teknologi tinggi akan tetapi tidak disokong oleh infrastruktur dan kemampuan user dalam pengelolaannya.

Dalam postingan ini, saya akan mengambil sebuah contoh mengenai pemanfaatan teknologi tepat guna dalam hal pembelajaran jarak jauh (e-learning). Hampir kita ketahui secara bersama, model pembelajaran jarak jauh (e-learning) sedang hangat menjadi pembicaraan. Media pembelajaran online pun mulai bermunculan, mulai dari program open source seperti moodle hingga program berbayar. Akan tetapi dibalik itu semua, saya merasakan masih ada sebuah kekurangan dalam proses belajar mengajar jarak jauh. Yang dimana proses belajar tersebut masih terkesan “jadul”, kurang interaktif dan menarik bagi siswa. Dibutuhkan sebuah aplikasi/penggunaan teknologi yang bisa menjadi sarana alternatif pembelajaran (biasanya kami menyebut dengan istilah kuliah online) yang dapat menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Ide tulisan ini saya dapatkan ketika kami sedang melakukan kuliah online dengan Mbak Karin Riska. Disaat itu topik pembahasan yang dibahas mengenai administrasi Windows Server 2008 R2. Media pembelajaran yang kami gunakan yaitu software Team Viewer dengan fitur MEETING. Hasil dari pembelajaran pun sangat memuaskan, kita bisa saling berinteraksi secara real time menggunakan fasilitas chat yang disediakan oleh Team Viewer. Selain itu, presenter (orang yang menyajikan materi) dapat leluasa mengarahkan mouse dan memberikan materi tanpa takut peserta yang lain tidak mendapatkan materi yang sama.  Pemanfaatan teknologi ini jelas lebih mudah baik dalam hal konfigurasi untuk user awam (tanpa pengaturan teknologi multicast ataupun teknologi conference lainnya) dan penggunaan biaya. Software Team Viewer dapat digunakan secara gratis oleh user yang membutuhkannya dengan opsi pilihan non commercial use.

Penerapan mekanisme pembelajaran online seperti yang biasa dilakukan oleh teman-teman di HC, sepertinya juga bisa diterapkan oleh lembaga pendidikan yang mempunyai program pembelajaran jarak jauh. Faktor kenyamanan, interaktif, hemat resource hingga open source layaknya jadi pertimbangan tersendiri bagi pendiri course untuk menerapkannya.