Inkonsistens menjadi perhatian utama saya belakangan ini. Permasalahan utama yang rata-rata dihadapi mahasiswa adalah konsistensi terhadap suatu subject. Inkonsistensi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab kegagalan mahasiswa, apakah itu selama perkuliahan (mendapatkan nilai D, mempunyai IPK rendah) hingga menyelesaikan perkuliahan (Susah mendapatkan pekerjaan karena kurang kompeten di bidangnya masing-masing). Hal ini lah yang diingatkan oleh Andreas Diantoro selaku Presiden Microsoft Indonesia ketika menjadi nara sumber dalam salah satu seminar nasional. Hal senada juga pernah diucapkan Budi Rahardjo, salah seorang entrepreneurship dan tokoh IT Indonesia dalam seminar nasional, beliau mengatakan bahwa untuk dapat dikatakan ahli pada sebuah bidang, orang itu haruslah mempunyai jam terbang yang tinggi. Dan satu catatan yang dapat saya simpulkan, untuk mempunyai jam terbang sehingga bisa mencapai tahapan “ahli” yang dibutuhkan Cuma satu, konsistensi akan subject yang kita tekuni.

“Warisan budaya” inkosistensi yang menghinggapi mahasiswa pasti pernah dialami oleh seluruh mahasiswa, mulai dari mahasiswa di perguruan tinggi swasta, tapi bahkan Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki standar Internasional pun mengidap penyakit ini. Parameter penilaian pun bisa beraneka ragam, mulai dari passion akan suatu bidang yang digeluti (jurusan), social masyarakat kampus (organisasi kemahasiswaan), hingga bidang akademis.  Salah satu contoh yang akan saya berikan adalah inkosistensi di bidang IT, analogi yang saya berikan adalah seorang mahasiswa yang sedang menekuni obyek network security, ketika adanya tantangan dan godaan dengan melihat temannya berprestasi di bidang lain (katakana di bidang Programming, Robotik) maka si mahasiswa itu akan tertarik terhadap subject yang ditekuni temannya. Inilah yang menjadi polemik dan menurut saya termasuk ke dalam salah dalam pemikiran. Setiap orang mempunyai passion yang berbeda, dan jika dipaksakan tidak akan menghasilkan apa-apa. Masalah berprestasi? Tidak bisa dijadikan tolak ukur apakah mahasiswa tersebut berhasil/sukses di bidang yang dia sukai. Progress dan perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa jauh lebih saya hargai jika dibandingkan dengan hasil instan yang didapat. Bisa jadi saja seperti analogi diatas, apabila si mahasiswa terus menekuninya dan tetap konsisten, dia akan menjadi seorang yang pakar dan ahli di bidang network security, karena network security sendiri memiliki bidang yang sangat luas.

Hal ini  lah yang jarang disadari oleh orang tua, yang sering memaksakan kehendak mereka untuk memilihkan bidang perkuliahan (jurusan di bangku kuliah) yang akan diambil oleh anaknya ketika lulus sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan, tanpa mengindahkan hobi dan ketertarikan anak mereka. Hasil yang didapatpun tidak akan maksimal, justru bisa menjadi boomerang bagi anaknya sendiri. Masih ingat film “3 idiot”? lebih kurang seperti sosok yang digambarkan oleh sahabat ranchodas yang memiliki passion di bidang photography akan tetapi dipaksakan oleh orang tua nya masuk jurusan teknik.

Inkosistensi sendiri hingga saat ini saya belum tahu penyebab sebenarnya, apakah itu dimulai dengan rasa jenuh, tidak punya pendirian, putus asa, atau memang berada di luar zona safe dari passion mereka. Akan tetapi sedikit pengalaman yang ingin saya berikan ketika kita merasa inkosistensi, saya selalu memberikan waktu istirahat yang lebih ketika rasa jenuh mulai menghinggapi saya ketika beraktifitas, karena ditakutkan apabila dipaksakan rasa jenuh tersebut akan semakin besar dan menghasilkan inkosistensi pada diri kita. Selanjutnya, bergaul dan mengakrabkan diri dengan orang-orang yang berada di jalur yang sama dengan kita, bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini.