Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, setidaknya itulah salah satu jargon yang menjadi alasan keluarga besar batch 5 ITB-SEAMOLEC mengadakan kegiatan olahraga pagi pada tanggal 15 Desember 2011. Keletihan dan kejenuhan beraktifitas yang dilakoni beberapa minggu  belakangan ini, dan indikator mulai terjadinya gap sosial di dalam keluarga baru batch 5, harus ditanggapi secara cepat dan cermat oleh ketua kelompok batch 5, Geni Isno Mutri. Kebersamaan yang mulai luntur diakibatkan kesibukan masing-masing dan kepentingan beberapa kelompok berupa “blok-blok” daerah harus segera dilebur kembali menjadi satu tujuan dan satu komando untuk sama-sama berjuang guna mencapai tujuan bersama, sukses dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Kegiatan pun dimulai tepat pukul 06.30 WIB, yang langsung diambil alih oleh ketua mahasiswa batch 5 ITB-SEAMOLEC, saudara Geni Isno Murti. Setelah berbincang-bincang pagi sekedar menyapa anggota keluarga lainnya, kegiatan pertama pun dimulai, senam pagi dilakukan lebih kurang selama 15 menit. Antusiasme yang cukup besar dari keluarga besar batch 5 menebarkan aura positif dan kebersamaan yang hampir hilang itupun terasa kembali menghampiri keluarga baru kami ini.  Tawa dan canda serta kehangatan rasa kekeluargaan sangat terasa ketika menyambut beberapa rekan yang datang terlambat pada kegiatan ini. Senyuman hangat itu begitu membahagiakan bagi saya, kami, mereka dan kita semua yang mengisyaratkan bahwa “KAMI MASIH ADA DAN SIAP BERJUANG BERSAMA”

Kegiatan pertama diisi dengan lari pagi mengelilingi joging track danau Universitas Terbuka, Pondok Cabe-Jakarta Selatan sebanyak 3 putaran. Ada yang serius melaksanakan, setengah-setengah melaksanakan dan hanya sekedar melakukan foto bersama. But finally all of activity  in this day, indicated batch 5 is solid team and one big family. Kekompakan semakin terasa ketika adanya aksi “nakal” yang dilakukan beberapa saudara-saudara batch 5 yang menggotong ketua batch dan menceburkan beliau ke dalam danau. Walaupun bagi beberapa orang kegiatan ini hanya sebagai intermezzo, tapi berdasarkan pengalaman saya di berbagai organisasi, kebersamaan dan kekeluargaan dapat ditimbulkan oleh sebuah kejadian yang sangat berkesan, baik itu kejadian suka, duka maupun bahagia. Kedewasaan ketua batch dan kebijaksanaan beliau lah yang menjadi alasan bagi saya selaku inisiator untuk “mengorbankan” beliau menjadi objek penderitaan demi meningkatkan kebersamaan kami yang sempat luntur.  Pengalaman bersama beliau dalam beberapa kegiatan massa dan organisasi sudah cukup bagi saya untuk mengenal siapa beliau, cara pemikiran beliau dan karakteristiknya dalam bertindak. Sosok yang saya rasa pas untuk menjembatani beberapa watak, beberapa kebudayaan dan beberapa pemikiran dari berbagai suku bangsa yang berkumpul disini.  Dan dalam beberapa detik, burr.. sang pemimpin pun tercebur ke dalam danau.

Kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan makan bersama, menu sederhana yang disajikan dan disertai rasa kasih sayang kekeluargaan menjadi bumbu penyedap masakan yang menghasilkan cita rasa luar biasa di sarapan pagi ini. Kebersamaan, kekompakan dan kekeluargaan semakin erat dirasakan. Makan dengan lesehan bersama-sama bak pepatah minang “duduak samo randah, tagak samo tinggi” memberikan efek luar biasa, tak ada perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, dan yang tersisa hanya satu, one flag, one family and one union of batch 5 ITB-SEAMOLEC. Salah satu moment essential dalam kegiatan ini adalah pembentukan sebuah team yang merupakan perpanjangan tangan dari kepemimpinan saudara geni isno murti untuk memaksimalkan setiap potensi yang ada di keluarga ini. Divisi yang terbentuk antara lain, divisi olahraga, rohani dan keagamaan, divisi konsumsi dan divisi keuangan.

Untuk membentuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan dibutuhkan waktu yang lama, banyak momen yang harus dialami bersama, suka, duka dan kesusahan, akan tetapi untuk menghancurkan kebersamaan dan kekeluargaan ini tidak butuh waktu yang lama, satu kesalahan dan satu permasalahan dapat memecah kelaurga kita. Buang semua ego kita, buang rasa “sok pintar” yang ada di diri kita, dan buang rasa “memandang rendah” terhadap saudara-saudara kita yang berasal dari daerah-daerah. Negara kita tidak butuh seribu superman untuk mengembangkan dan martabat bangsa, yang dibutuhkan adalah 100 super team yang loyal dan rela berkorban untuk bangsa ini, kita kelompok mahasiswa terpilih, kita mahasiswa harapan bangsa, jadilah para kesatria yang ditunggu negeri ini, berani mengambil jalan ini berarti siap menanggung resikonya. Dan resiko itu tanggung jawab kita bersama, semangat saudaraku, dengan bersama kita bisa. Salam Ganesa, Salam ITB, berjuang untuk tuhan, bangsa dan almamater