Banyaknya polemik yang terjadi belakangan ini yang hampir terjadi diseluruh dunia harus kita akui memberikan dampak yang berarti bagi bangsa Indonesia, dimulai dari melonjaknya harga minyak mentah dunia dikarenakan krisis yang terjadi di timur tengah, belom lagi efek dari gempa bumi di jepang dan meledaknya reaktor nuklir yang mempengaruhi di bidang ekonomi, teror bom yang kembali mulai menjamur di Indonesia dan permasalahan klasik yang tak kunjung selesai mendera negeri ini KORUPSI, harus kita akui menjadikan kinerja pemerintahan ini terkesan lambat. Kalo boleh berpikir obyektif, banyaknya persoalan yang terjadi akan mempengaruhi kinerja pemerintah, pada kesempatan kali ini, saya akan coba sedikit membahas tentang isu-isu kecil yang mulai kembali menyeruak terkait tentang rencana pemerintah untuk melakukan proyek pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia

Mungkin untuk teman-teman yang belum mengetahui apa itu reaktor nuklir, saya bisa sedikit membantu dengan memberikan kutipan yang dimuat oleh wikipedia tentang apa itu reaktor nuklir.

Reaktor nuklir adalah suatu tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap. Berbeda dengan bom nuklir, yang reaksi berantainya terjadi pada orde pecahan detik dan tidak terkontrol.

Reaktor nuklir digunakan untuk banyak tujuan. Saat ini, reaktor nuklir paling banyak digunakan untuk membangkitkan listrik. Reaktor penelitian digunakan untuk pembuatan radioisotop (isotop radioaktif) dan untuk penelitian. Awalnya, reaktor nuklir pertama digunakan untuk memproduksi plutonium sebagai bahan senjata nuklir.

Saat ini, semua reaktor nuklir komersial berbasis pada reaksi fisi nuklir, dan sering dipertimbangkan masalah risiko keselamatannya. Sebaliknya, beberapa kalangan menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan cara yang aman dan bebas polusi untuk membangkitkan listrik. Daya fusi merupakan teknologi ekperimental yang berbasi pada reaksi fusi nuklir. Ada beberapa piranti lain untuk mengendalikan reaksi nuklir, termasuk di dalamnya pembangkit thermoelektrik radioisotop dan baterai atom, yang membangkitkan panas dan daya dengan cara memanfaatkan peluruhan radioaktif pasif, seperti halnya Farnsworth-Hirsch fusor, di mana reaksi fusi nuklir terkendali digunakan untuk menghasilkan radiasi neutron.

pembangunan beberapa PLTN jelas menjadi salah satu alternatif yang cukup menggiurkan bagi pemerintah, kita mencoba berpikir positif, terlepas dari berapa biaya pengadaaan dan installasi yang akan menghabiskan APBN, jelas pembangunan reaktor nuklir akan memberikan dampak pada meningkatnya produktivitas suplai listrik dan secara tidak langsung menaikkan citra Indonesia di mata-mata investor dari negara tetangga. Lantas, apakah hanya itu yang kita cari? Resikonya? Apakah sebanding dengan manfaat yang akan kita peroleh? oke, mari kita coba untuk kembali berpikir secara obyektif, efek radiasi yang ditimbulkan oleh reaktor nuklir tidak akan dapat dirasakan secara langsung, akan tetapi 10 hingga 20 tahun mendatang. Kita ambil contoh kejadian meledaknya reaktor nuklir Chernobyl 1986, setelah dilakukan penelitian, efek yang dihasilkan dari radiasi nuklir yang meledak terjadi hingga 10-15 tahun kemudian. Sekali lagi saya bukan untuk menakuti-nakuti, dan hanya mencoba berpikir obyektif. Masih banyak yang harus kita benahi sebelum berpikir terlalu jauh untuk membangun terobosan, seharusnya pemimpin-pemimpin di negeri ini harus punya management planning dengan baik untuk memperhitungkan segala dampaknya, belum lagi PLTN yang rencananya akan dibangun di pulau sumatera tepatnya daerah Batam. Sumatera? iya, sumatera merupakan daerah ring of fire (Cincin Api) yang beresiko seringnya terjadi gempa, bisa saja kejadi seperti jepang yaitu meledaknya reaktor nuklir dikarenakan retaknya atau pecahnya pengaman reaktor terulang kembali. Andaikan reaktor PLTN di bangun di daerah bebas gempa seperti pulau Kalimantan, mungkin sah-sah saja dikarenakan secara geologi pulau Kalimantan jelas lebih safe apabila kita bandingkan dengan keadaan pulau-pulau lainnya yang ada di Indonesia..

Lantas, apa saja efek dan resiko dari radiasi nuklir?  Beberapa efek kesehatan yang dialami korban radiasi nuklir, antara lain terkena kanker. selain itu dikutip dari tempointeraktif menyebutkan bahwa

Korban yang langsung terpapar radiasi terkena sindrom akut radiasi (ARS), mereka meninggal dalam waktu beberapa minggu setelah ledakan. Selain terkena ARS, korban juga ada yang meninggal karena kanker thyroid setelah menghirup udara yang terpapar radioaktif.

Selain itu, korban radiasi nuklir juga ada yang mengidap penyakit leukimia, gangguan metabolisme, dan katarak. Sejumlah orang juga mengaku mengalami masalah kesuburan dan masalah kehamilan, tetapi belum dapat dipastikan apakah masalah itu merupakan efek radiasi.

Beranjak dari kejadian meledaknya reaktor nuklir di fukushima jepang, kronologis yang terjadi ternyata disebabkan kesalahan perhitungan para ahli dan pekerja dalam mendinginkan reaktor nuklir. Petaka pertama, datang sewaktu atap gedung reaktor nuklir mengalami retak-retak, untung saja para ahli jepang sudah memperkirakan kemungkinan terburuk dan telah melengkapi reaktor nuklir tersebut dengan stainless steel setebal 6 cm. mungkin ini menjadi pertimbangan awal bagi kita untuk membangun nuklir, apakah kita sudah bisa memperkirakan kemungkinan terburuk seperti yang diperkirakan oleh ahli jepang? apa lantas itu saja cukup? Belum. Reaktor nuklir menjadi memanas disebabkan rusaknya pasokan listrik di negara jepang. nah ini menjadi catatan kedua kita. REAKTOR NUKLIR BISA MEMANAS DAN BERAKIBAT MELEDAK HANYA DIAKIBATKAN SATU FAKTOR, LISTRIK, lantas apakah kita bisa menjamin pasokan listrik selalu standby dalam 7x24x365? alih-alih bisa memenuhi setahun penuh dengan listrik, Bandara SOETTA (Soekarno Hatta) saja yang menjadi gerbang awal Indonesia masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir. Miris.

Kembali ke topik bahasan, salah satu faktor yang menyebabkan meledak dikarenakan salah perhitungan dari para ahli untuk mendinginkan reaktor nuklir. menurut vivanews yang dilansir langsung Associated Press menyatakan bahwa

ledakan terjadi ketika petugas  pembangkit berusaha mendinginkan reaktor nomor satu dengan menggunakan air.  Sayangnya air yang mereka masukkan ke dalam reaktor, menciptakan hidrogen ketika terpapar dengan batang bahan bakar. Tekanan hidrogen yang besar memaksa petugas mengeluarkan sebagian. Saat dikeluarkan, hidrogen itu bercampur dengan oksigen. Nah percampuran hidrogen dengan oksigen itulah kemudian meletupkan ledakan.

Kurang cermatnya perhitungan dalam pendinginan reaktor dan situasi yang serba kacau karena gempa dan gelap pula, memaksa para petugas berimprovisasi dalam mendinginkan reaktor.

Lantas, apa kita sanggup untuk mengantisipasi keadaaan itu semua? para ahli di jepang saja yang terkenal akan ketelatenannya masih bisa salah perhitungan dan mengakibatkan salah satu reaktor  nuklir meledak dan menjadi pemicu reaktor lainnya meledak dikarenakan suhu panas yang meningkat. Apakah para teknisi dan ahli kita sudah siap untuk mengatasi semua permasalahan? maximal margin human error yang bisa ditolerir mungkin hanya 0.1 % yang dengan kata lain berarti tidak ada blunder yang dilakukan oleh para teknisi dan ahli dalam melakukan perhitungan secara detail. apakah kita sanggup? tulisan kali ini bukanlah bermaksud untuk meremehkan kemampuan yang dimiliki para ahli indonesia dan para teknisi, akan tetapi hanya masukan dan bahan pertimbangan bagi para elite-elite bangsa ini untuk kembali memikirkan proyek nuklir mereka. jangan hanya demi mengejar gengsi mereka mengorbankan nasib anak cucu mereka. Pembangunan sebuah proyek sangat gampang dilakukan, akan tetapi yang susahnya? PERAWATAN!!!

Lebih baik kita berpikir untuk mengembangkan pembangkit tenaga alternatif, seperti angin, udara dan panas/surya. kondisi geografis indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa jelas sangat menguntungkan Indonesia apabila mengembangkan teknologi ini. Belum lagi lahan tanah indonesia yang subur dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk mengembangkan teknologi bio walaupun sampai saat ini masih ada beberapa pendapat yang mengatakan kurang ramah ingkungan.

Mari kita bersama-sama untuk berpikir kembali tentang resiko ini, tolong jangan terlampau terburu-buru untuk merealisasikan proyek ini dikarenakan sangat banyak resiko yang bakal dihadapi. ingatlah anak cucu kita yang akan mewarisi negeri ini. mari kita lebih dalam mengkaji teknologi ini, kalo bukan sekarang, masih ada esok untuk mengimplimentasikan teknologi ini, setelah semua elemen pendukung siap merealisasikannya, SDM, Infrastruktur dan Sumber Energinya. Jangan sampai sudah mengelontorkan biaya mahal tapi hasil yang kita dapatkan nihil.