Kaum wanita di Minangkabau sangatlah dihargai, wanita bagaikan sesosok makhluk yang begitu suci yang harus dipelihara dan dijaga kehormatannya. Setidaknya itu lah pandangan sebagian besar pemuda Minangkabau menanggapi makhluk lawan jenis nya tersebut. Bukan karena “takut” menggoda wanita, cemen, ataupun kata-kata hina lainnya, ini lebih disebabkan kami begitu menghargai wanita itu sendiri. Baik disadari atau tidak sebagian besar pemuda Minangkabau lebih condong menyukai wanita yang alim, sholehah, pintar membaca alqur’an dan berjiwa keibu-ibuan daripada sesosok wanita yang cantik, rambut panjang, tergurai dan gaul. Sosok criteria pilihan seperti diatas adalah idaman sebagian besar pemuda Minangkabau dalam mencari istri. Ini sesuai dengan kebiasaan yang diajarkan oleh orangtua-orangtua kami dahulu yang mengatakan “Ibu itu adalah pondasi sebuah rumah, yang mana dia mengurus anak, mengurus segala sesuatu kehidupan rumah tangga dan ibu itu adalah sesosok manusia yang dapat membuat rumah itu bagaikan surga atau neraka. Semuanya tergantung dari sosok si ibu”.

Jadi jangan heran jikalau seorang pemuda Minangkabau jika menemui sesosok wanita muslim, pintar, easy going maka dia akan respect walaupun dia tidak akan mengungkapkan secara langsung perasaannya kepada sang wanita. Pemuda ini lebih memilih untuk memendam perasaannya yang akan disampaikan kepada wanita tersebut apabila disuatu saat dia sudah mapan. Pemuda minangkabau tidak akan mau “asal-asalan” mengatakan sayang/cinta pada sesosok wanita yang benar-benar dia sayangi karena dia akan berpikir matang-matang karena secara garis besar, mereka tidak ingin bermain-main dengan masa depan, bukan hanya masa depan bagi dirinya sendiri, tapi juga masa depan bagi anak-anaknya. Mungkin itu sedikit gambaran tentang watak sebagian pemuda Minangkabau, walaupun tidak bisa kami pungkiri tidak semua pemuda minangkabau yang berpikiran seperti. Tapi jangan takut, pemuda-pemuda yang tidak berpikirian seperti ini hanyalah minoritas di minangkabau dikarenakan efek perilaku yang tidak baik seperti ini lebih banyak disebabkan pergaulan mereka yang pergi merantau ke luar daerah.
Jadi please STOP untuk mengatakan pemuda Minangkabau cement untuk menganggu wanita apabila bertemu dengan wanita yang manis, Diam bukan berarti mereka tidak melakukan apa-apa, tapi taukah anda apa yang mereka lakukan? Mereka berusaha keras untuk menunjukan kepada si wanita bahwa mereka adalah pria yang mandiri dan bisa diandalkan esok hari, bukan menjadi pria yang hanya bisa dibanggakan sekarang dikarenakan kekayaan orang tua, kegantengan mereka, pangkat/golongan dan harkat serta martabat keluarganya.