Kata-kata untung sudah sangat familiar dengan masyarakat minangkabau, setiap terjadi kejadian sesuatu baik itu kejadian baik, buruk pasti selalu menggunakan kata-kata “untung”. Contoh saja ketika terjadi musibah kebakaran, walaupun rumahnya sudah ludes terbakar, kata-kata untung masih saja terucap dari sang pemilik rumah, misalkan untung saja anak-anak kami selamat dari kebakaran ini. Mungkin itu hanya sebagian kecil contoh kebiasaan/adat minang dalam bertutur kata. Kata-kata untung bisa jadi bermakna syukur kepada Allah S.W.T terhadap apapun yang diberikan oleh Allah S.W.T baik itu cobaan, rahmat, hingga berkah.

Walaupun kami hidup di “ring of fire” yang dimana kami hidup di lingkaran api yang sangat beresiko akan gempa bumi akan tetapi melihat kebiasaan masyarakat yang hidup berasaskan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, saya seperti beruntung dilahirkan di negeri ini. Sebuah negeri yang dilalui garis khatulistiwa dengan lingkungan alam yang asri, masyarakat yang ramah, tali persaudaraan yang kuat, dan rasa toleransi yang tinggi.
Persetan dengan orang-orang diluar yang mengatakan kami ini otak bisnis, pelit atau apapun lah, tapi asalkan mereka ketahui, bagi kami persaudaraan nomor satu. “lebih baik teman makan dari pada kita yang makan”, prinsip ini sangat dipakai oleh pemuda-pemuda minangkabau dalam bergaul sehari-hari. Kehidupan yang sangat damai, tentram dan bahagia walaupun sering diselingi dengan gempa bumi. Gempa bumi sudah menjadi sahabat bagi masyarakat kami dalam beberapa tahun belakangan ini, mau tidak mau kami tetap harus mengucapkan “UNTUNG” terhadap anugerah ini, mengapa saya berani mengatakan Padang beruntung memiliki gempa bumi? Ini bertanda Allah masih sayang kepada kami yang mau mengingatkan/menegur kami dengan teguran-teguran halus seperti gempa bumi jikalau kami melakukan kesalahan.
Setelah lebih dua tahun meninggalkan negeri minang ini, ternyata kebudayaan ini masih belum berubah. Sewaktu kembali menginjakkan kaki disini dan mendengarkan kembali masyarakat masih mau bersyukur kepada Allah S.W.T disaaat keadaan apapun dan walaupun dalam kondisi apapun , hati ini serasa tentram se-tentramnya yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Banyaknya serangan arus globalisasi yang terjadi belakangan ini, sedikit mengkhawatirkan bagi kami, mudah-mudahan arus-arus yang membawa dampak “negative” itu tidak lah membahayakan bagi adat istiadat masyarakat Minangkabau yang sudah turun temurun sejak dahulu hingga sekarang. Mudah-mudahan Allah S.W.T masih mau menjaga kampung kami ini dari segala gangguan-gangguan moderenisasi yang condong kepada kehancuran umat. Dan kami berharap 10 tahun kedepan, kami masih bisa berkata “UNTUNG NEGERI INI MASIH SEPERTI DULU, MASIH MAU BERSUJUD KEPADA ALLAH S.W.T”