Lebih kurang tanggal 12 Agustus 2010, saya mendapatkan e-mail dari ketua KPLI Padang yang di forward dari e-mail aktivis linus untuk mengadakan gathering KPLI Padang untuk membahas program kerja KPLI kedepannya. Menindak lanjuti email tersebut, kami berinisiatif untuk mengadakan gathering sekaligus melakukan buka bersama di salah satu rumah makan di kota padang. Kegiatan gathering ini dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2010. Pertemuan ini mempunyai beberapa agenda membahas tentang membentuknya sebuah komunitas KSL (Kelompok Study Linux) untuk salah satu universitas negeri di padang guna mengenjot kembali semangat mahasiswa untuk go open source. Pertemuan ini hampir dihadiri oleh seluruh pengurus inti KPLI Regional Padang, padahal pengurus inti KPLI merupakan orang-orang yang tergolong sibuk dan mempunyai pekerjaan dengan intensitas pekerjaan “super sibuk” tapi mereka tetap mau mengorbankan waktu mereka untuk berkumpul bersama dan membahas permasalahan opensource di kota padang khususnya. SALUT!! Itu lah kata-kata yang saya bisa ucapkan ketika melihat semangat anggota KPLI ini yang merelakan waktu mereka yang berharga untuk tetap memperjuangkan idealisme mereka sebagai orang-orang yang menganggap ilmu pengetahuan dan software itu harus bebas dipelajari oleh semua orang atau dengan kata lain harus open source. Disaat gathering dilaksanakan, salah seorang pengurus KLPI regional kota padang sempat menyeletuk dengan mengatakan bahwa “pengguna KPLI harus rela meninggalkan Software/Sistem Operasi yang tidak open source, apabila ada anggota KPLI yang menggunakan software/system operasi tidak open source, maka akan di keluarkan!”. Entah kata-kata itu hanya sebagai gertakan untuk membudayakan go open source terutama di kalangan anggota KPLI atau memang ini sebuah syarat mutlak yang akan dirumuskan untuk calon anggota KPLI kedepannya, entah lah. Tapi untuk teman-teman ketahui, perusahan-perusahaan IT di zaman sekarang memang menggunakan software/operating system sebagai base dari system mereka.

Mulai dari database, web server, proxy, squid. Bahkan beberapa perusahaan sudah mulai menggunakan OS berbasis opensource bukan hanya sebagai server saja, tapi juga sebagai client. Mungkin kata-kata diatas juga menyikapi ajakan pemerintah melalui menteri-menteri terkait bidang IT (Depkominfo dan Depristek) yang kabarnya mulai tahun 2013 seluruh departemen pemerintahan untuk menggunakan format penulisan software berbasis opensource (contohnya openoffice) untuk setiap data-data seperti spreadsheet, presentation dan word processor.
Melalui diskusi yang kami lakukan bersama KPLI Padang, ternyata permasalahan utama yang kami dapati dilapangan mengapa masyarakat tidak mau untuk melakukan migrasi ke opensource adalah “takutnya” akan kehilangan data-data yang berada di OS sebelumnya. Baik itu mulai dari tidak bisa dibacanya data yang digunakan di OS sebelum nya, tidak compatible nya device-device tambahan yang mereka gunakan di OS yang baru hingga banyaknya software-software pendukung yang belum support terhadap OS baru ini. Secara garis besar, “rasa takut” yang diutarakan oleh sebagian masyarakat ini tidak lah beralasan, mengapa? Ini dikarenakan untuk setiap data-data yang mereka gunakan di OS sebelumnya, bisa digunakan dan diakses dengan baik di OS berbasi Open Source. Contohnya, (maaf sebelumnya) setiap dokumen-dokumen yang dibuat menggunakan software-software pengolah data berbayar baik itu berekstensi .doc, .ppt, .xls, ataupun .docx, .pptx, .xlsx dapat dibaca dengan baik oleh aplikasi pengolah data berbasis open source. bukan hanya itu, berkat dukungan komunitas-komunitas pengembang dan pengguna linux, kekhawatiran masyarakat pada point ke dua yaitu banyaknya device-device yang tidak compatible dengan OS berbasis open source perlahan-lahan sudah bisa diatasi. Contohnya OS berbasi Open Source di zaman sekarang yang sudah menggunakan kernel versi 2.4x ke atas sudah dapat menggunakan Mouse dalam pengoperasiannya dan menggunakan USB Flash Disk sebagai salah solusi untuk storage device nya. Bukan hanya itu, penggunaan modem yang menggunakan port koneksi usb 2.0 sudah bisa digunakan di OS berbasi open source ini. Modem-modem USB Stick yang sudah bisa dengan baik digunakan di Linux adalah USB Modem keluaran pabrik dari Huawei, AT&T dan ZTE. Memang saya sendiri tidak menutupi bahwa ada beberapa seri modem-modem versi dahulu yang belum bisa diinstallasi semudah layaknya modem-modem zaman sekarang, akan tetapi modem-modem lama tersebut juga bisa digunakan dengan baik dengan menambahkan beberapa pengaturan-pengaturan manually yang sangat mudah dilakukan. Untuk langkah-langkah pengaturannya sendiri dapat dengan mudah ditemukan di internet dan sudah banyak di bahas di forum-forum pengguna linux. Untuk permasalahan pada point 3 yaitu kurangnya software yang dapat mensupport kinerja user untuk melakukan aktifitas sehari-hari dapat sedikit demi sedikit kita atasi. Contohnya saja, seperti software pengolah data, pengolah gambar, pemutar music, pemutar video, beberapa game 3D, aplikasi untuk massenger, aplikasi browsing, aplikasi untuk bahasa pemrograman, software untuk statistic, software arsitektur 3 dimensi, software-software hacking, software-software monitoring jaringan sudah banyak yang support di OS berbasis Open Source zaman sekarang. Apalagi OS berbasis open source sangat handal apabila kita gunakan untuk melakukan browsing dikarenakan kecepatan akses yang lebih cepat jika dibandingkan dengan OS berbayar. Selain itu menggunakan OS berbasis open source relatif lebih aman untuk digunakan (bahaya dari virus, hacking hingga Trojan dan malware) dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk syarat membuat sebuah warnet yang murah meriah dengan kualitas wah, memang satu solusinya yaitu dengan menggunakan linux. Bisa kita bayangkan kita tidak perlu lagi takut untuk ancaman sweeping dan razia operating system bajakan dan bisa kita perkirakan berapa biaya yang dapat kita hemat dengan menggunakan os linux? Untuk 10 komputer saja dengan 1 buah server, kita bisa menghemat hingga 10 Juta Rupiah. Ini bukan sekedar HOAX-HOAX sembarangan yang banyak kita dengar dari mulut-mulut. Ini merupakan murni hasil pengamatan kami di lapangan dan pengalaman dari masing-masing anggota KPLI yang membuka usaha warnet. Kami tidak ingin menutupi kelemahan dari system operasi berbasis open source apabila kita menggunakannya sebagai client ataupun server untuk usaha warnet. Satu-satunya permasalahan yang ada hanyalah jika warnet ini dijadikan sebagai game online dikarenakan untuk game yang lagi ngetrend di zaman sekarang seperti Point Blank tidak bisa dilakukan installasi dengan langsung compile file .exe nya dengan klik dua kali dan next hingga beres. Satu-satunya solusi permasalahan ini adalah dengan mencari beberapa script-script tambahan (script bisa dicari di forum-foum pengguna linux seperti forum opensource.telkomspeedy.com atau forum.linux.or.id) untuk dapat mengcompile program ini sehingga bisa dijalankan di OS berbasis open source. Tapi kalo si empunya warnet, hanya memprioritaskan warnetnya untuk akses browsing dan chatting saja, tidak ada alasan lain untuk menggunakan OS berbasis open source. akan banyak benefits yang kita dapatkan menggunakan OS berbasis open source, apabila kita dapat melakukan management dan pengelolaan dengan baik terhadap warnet kita, bukan tidak mungkin warnet kita nanti akan menjadi proyek percontohan pengguna linux yang sedang digalakkan oleh beberapa departemen pemerintahan, yang tentunya kita akan mendapatkan “benefit” terhadap usaha kita menggalakkan gerakan ini. Bukan hanya itu, kita akan banyak mendapatkan apresiasi dari komunitas-komunitas pengguna linux di Indonesia. So, Apa Lagi? Go To Open Source!!!